Desa Poteran. Pada tahun 2025, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam membangun ketahanan pangan yang kokoh, sekaligus memajukan perekonomian desa yang merata. Salah satu cita-cita yang kini menjadi perhatian utama adalah memastikan setiap lapisan masyarakat, terutama yang berada di desa, memiliki akses terhadap makanan bergizi dan sehat secara gratis.
Ini bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan pangan dasar, tetapi juga
tentang menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi kemiskinan, dan
memberdayakan masyarakat desa untuk mandiri secara ekonomi.
Salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan kualitas hidup
adalah akses terhadap makanan bergizi. Masyarakat desa, yang sebagian besar
bergantung pada pertanian, sering kali menghadapi kendala dalam mengakses
pangan yang tidak hanya cukup, tetapi juga sehat dan bernutrisi. Oleh karena
itu, keberadaan program yang memastikan makanan bergizi dan sehat tersedia
secara gratis bagi masyarakat desa sangatlah vital.
Program ini bisa dimulai dengan menyediakan pangan sehat melalui subsidi
atau distribusi pangan yang berbasis pada produk lokal. Sebagai contoh,
memanfaatkan hasil pertanian lokal yang kaya akan kandungan gizi bisa menjadi
solusi untuk mengurangi ketergantungan pada pangan impor yang lebih mahal. Hal
ini tidak hanya menguntungkan masyarakat desa dari sisi konsumsi pangan, tetapi
juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Perekonomian desa menjadi salah satu aspek yang sangat berkaitan
dengan ketahanan pangan. Jika perekonomian desa bisa berkembang dengan baik,
maka potensi untuk meningkatkan ketahanan pangan pun semakin besar.
Dalam konteks ini, instrumen-instrumen kebijakan dari lembaga
negara memegang peranan yang sangat penting. Salah satunya dengan kenaikan
pajak sebesar 12 persen di awal tahun 2025, yang akan memberikan dampak positif
bagi pembangunan desa dan daerah tertinggal di Indonesia.
Berdasarkan perhitungan Kementerian Desa, dana yang terkumpul dari
kenaikan pajak ini diperkirakan mencapai Rp 3 triliun, yang akan dialokasikan
untuk mempercepat pembangunan di wilayah-wilayah yang membutuhkan perhatian
lebih.
Lembaga negara memiliki peran strategis untuk menggerakkan ekonomi
desa melalui program-program yang mendukung sektor pertanian, industri kecil
dan menengah (IKM), serta infrastruktur desa. Dengan adanya pelatihan, bantuan
modal, dan akses pasar, masyarakat desa bisa memproduksi pangan lebih banyak
dan dengan kualitas yang lebih baik.
Selain itu, pembenahan sistem distribusi yang efisien juga dapat
memastikan pangan tersebut sampai ke tangan konsumen dengan harga yang wajar
dan tanpa adanya pemborosan.
Kesiapan lembaga negara dalam menyediakan instrumen yang tepat
untuk mendukung ketahanan pangan dan perekonomian desa adalah kunci. Di tingkat
hulu, lembaga negara harus mendukung upaya peningkatan hasil pertanian dengan
teknologi tepat guna, riset, dan pelatihan bagi petani. Sumber daya alam yang
melimpah di desa harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan pangan
yang cukup dan berkualitas.
Di sisi hilir, sistem distribusi pangan harus lebih baik lagi.
Infrastruktur yang memadai, seperti jalan yang menghubungkan desa dengan kota,
pasar yang terorganisir dengan baik, serta perbaikan sistem logistik yang
efisien, akan memastikan bahwa hasil pertanian dari desa sampai ke konsumen
tanpa adanya hambatan yang berarti.
Lebih dari itu, kebijakan yang berpihak pada petani, seperti
subsidi pupuk atau harga pangan yang stabil, juga harus diperhatikan. Ini akan
mengurangi ketidakpastian dalam produksi dan memberikan rasa aman bagi para
pelaku ekonomi di desa.
Membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan membutuhkan
pendekatan yang komprehensif, melibatkan berbagai pihak mulai dari pemerintah,
masyarakat, hingga sektor swasta. Di sisi pemerintah, program-program bantuan
pangan seperti Kartu Pangan atau Program Keluarga Harapan (PKH) bisa diperluas
dan diperbaiki agar lebih tepat sasaran.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah dengan pelaku usaha kecil
di desa sangat diperlukan untuk menciptakan rantai pasok yang efisien dan
memastikan keberagaman pangan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Ketahanan pangan tidak hanya berarti ketersediaan pangan yang
cukup, tetapi juga mencakup keberagaman pangan yang bergizi dan terjangkau.
Oleh karena itu, penting untuk mendorong masyarakat desa untuk lebih mengenal
potensi pangan lokal dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam yang ada di
sekitar mereka. Pendekatan berbasis kearifan lokal dan pola konsumsi yang
berkelanjutan akan sangat membantu dalam mencapai tujuan ini.
Tahun 2025 bisa menjadi titik balik bagi Indonesia untuk memperkuat
ketahanan pangan dan mengembangkan perekonomian desa yang mandiri. Dengan
memperhatikan peran lembaga negara sebagai instrumen yang mendukung dari hulu
ke hilir, serta memastikan akses masyarakat desa terhadap pangan yang sehat dan
bergizi, kita bisa mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera dan
berkelanjutan. Makanan yang bergizi dan perekonomian yang berkembang di desa
adalah fondasi bagi Indonesia yang lebih kuat, mandiri, dan tidak hanya bergantung
pada sektor kota saja.
_____________________________
Ditulis oleh: Abu Wakit, KADUS Galisek

Komentar
Posting Komentar